h1

Silent world in the broken heart

Februari 4, 2009

Silent world in the broken heart…

Bagaimana pun kompleksnya seseorang dia pasti bisa mengenali perasaannya sendiri, sedih, senang, berduka, gembira, cinta, semangat, benci, rindu, patah hati dan sebagainya… bagaimana pun dia menutup hati ataupun mengelabui hatinya sendiri, dia tetap tidak bisa menyangkal “kenyataan” dari sebuah perasaan tersebut.

Bagaimanapun cara kita untuk membenci, mencintai atau tidak memperdulikan sesuatu pasti akan terjadi sebuah pertentangan, perdebatan dan penyangkalan.

sun-lit-cherry-blossom-thank-you-card

Cinta“… mungkin sampai sekarang banyak yang masih belum bisa mendefinisikan hal tersebut. Terlalu kompleks, terlalu rumit, dan terlalu simpel. Kompleks karena terhubung dengan perasaan memahami, melindungi, menyayangi, dan memiliki. Rumit karena terhubung pada emosi, kenyataan, pelaku dan akibat. Simpel karena terhubung dengan satu hal… perasaan bahagia saat melihat, mendengar maupun merasakannya.

Sejauh apapun berlari, sebaik apapun menyembunyikan perasaan, sekuat apapun mencoba tetap pada sebuah kenyataan yang tidak bisa diubah… kecuali ada sebuah pita merah yang menarik kembali ke sebuah kesadaran di dunia yang baru. Tapi apa mungkin??? Diri sendiri menyangkal adanya tarikan, menyangkal adanya sesuatu yang baru, menyangkal segala hal yang membuatnya kembali merasakan sakit. Sedangkan “perasaan yang nyata” itu sesuka hati melakukan apa yang dia inginkan. Menarik dan menenggelamkan seseorang ke kolam berair dingin. Dinginnya merasuk hingga ke tulang belulang, menusuk jantung dan seluruh permukaan tangan bagai jarum.

Bagaimanapun “kenyataan itu pahit“… terlalu pahit sehingga seluruh syaraf dan jaringan di tubuh ini menolaknya. Menyatakan dan memutuskannya sebagai “mimpi buruk“, tapi berapa lama “mimpi buruk” ini berlanjut??? Dan akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah “ilusi“, gambaran palsu dan mengirimkan potongan2 gambar tadi ke otak dan menyuruhnya menjadikan sebuah “kenyataan” tetapi “kenyataan semu” sebagai wujud dari “penolakan“. Dunia yang didiami telah kosong, pergi bersama dengan munculnya “kenyataan” itu.

Malam menjadi suasana paling signifikan untuk mengindifikasikan datangnya “perasaan yang nyata” dan “kenyataan pahit“, tangisan menjadi gambaran terjelas mengenai penolakan dan pelarian. Semua tetap kembali pada sebuah hal, sesuatu yang pasti “Tidak bisa kembali“.

PS : “A little review from ‘After Break’, still on Drafting plan ”

See You All😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: