h1

Ayo Sekolah…

Maret 17, 2009

Oh ibu dan ayah selamat pagi… kupergi belajar sampaikan nanti…

Yo readers, untuk sementara blog “Just for @ cherry blossom” beneran jadi blog yang meng-observasi sisi-sisi kehidupan di Indonesia dulu ya.

Gw bener-bener lagi ingin banget jadi observer mengenai beberapa topik yang sekarang lagi rumit dibahas ma negara kita ini. Salah satunya adalah “Pendidikan”, kemaren gw telpon adek gw yang sekarang kelas 3 SMU en bulan depan mau ujian UAN. Yang gw tangkep saat dia ngomong soal cara belajarnya di sekolah dan segala macemnya, gw ngerasa dia kayanya stress. Yah, gimana enggak, tiap hari ditakut-takutin nilai standar ujian, siapa yang bakal jadi pengawas, pemilihan untuk masuk universitas en bla bla bla.

Dulu waktu gw SMU juga diberlakukan nilai standart ujian, dan gw mempertanyakan sendiri kenapa tuh guru-guru selalu ngingetin si nilai ini dan akhirnya jadi momok yang nakutin banget. Bukannya sebenernya ujian UAN itu sama dengan ujian semester? Bedanya cuma banyaknya materi yang dicakup, kertas ujiannya, dan ada pengawasnya entah dari sekolah lain atau dari universitas. Klo lo beneran belajar & stay cool en focus waktu ngerjain semua soalnya gw rasa ga da masalah. Terus jaman gw SMU dulu ada gossip penukaran nilai ujian, hahahaha… jujur gw ga tau masalah yang itu tapi semua tergantung dari kepercayaan dan keyakinan diri kita sendiri plus doa bo’. So buat semua anak-anak Indonesia yang mo ujian UAN… Met berjuang, dan jangan terpengaruh kabar atau hal-hal yang didengungkan orang lain, tetep belajar en percaya klo lo pasti bisa.

Nah yang gw bahas sebagai intinya adalah sistim pendidikan di Indonesia yang, Well, jujur ajah, gw ngerasa ga da bedanya dari waktu ke waktu justru mutu pendidikan malah menurun. Gw kemaren denger pendapat beberapa orang siswa SMP di radio yang mengatakan bahwa mereka sekarang pada males sekolah, alasannya adalah, gurunya jarang masuk, kebanyakan LKS, dan turunnya penghormatan murid terhadap guru karena banyak yang korupsi. W-O-W, kalau seorang murid dah ga ngerespek gurunya, bagaimana transfer ilmu itu bisa terjadi? Miris banget klo tau banyak anak-anak yang difasilitasi oleh orang tua mereka justru menyia-nyiakan sekolah, rasanya ga adil karena banyak juga anak-anak yang memiliki motivasi tinggi untuk bersekolah justru tidak dapat sekolah karena masalah ekonomi. Tapi yang lebih miris lagi adalah dimana seorang guru bukan lagi seorang panutan yang baik, dan hal itu yang menyebabkan turunnya motivasi murid terhadap ilmu yang diberikan guru tersebut pastinya. Sehinnga pada akhirnya sekolah hanyalah tempat untuk bersosialisasi. Ga cuma guru ajah lho, disebuah kota didaerah Jawa Timur, gw sendiri secara tidak langsung mengetahui ternyata nilai UAN bisa dipesan, asal ada koneksi dan sejumlah uang ke orang departemen pendidikan didaerah tersebut. Ga cuma nilai ajah, bahkan ijasah pun bisa. Yang menurut gw lucu lagi adalah pengubahan nilai-nilai rapor untuk keperluan PMDK ke beberapa universitas yang memiliki link ke sekolah tersebut. Gw sampe ketawa guling-guling waktu itu. Kalo gitu semua orang pantes dikasih gelar yang setara sama gelar Diploma 3 yaitu Amd, tapi bukan Ahli Madya tapi Ahli Manipulasi Data huehehehheh.

Seandainya gw jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan… maka resolusi gw adalah :

1. Mengubah sistim pendidikan yang mengarahkan murid sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
Karena tidak semua anak bakal jadi dokter, pilot, atau tukang bangunan. Dengan sistim ini baik murid, orang tua maupun guru dapat mem-fokuskan pengembangan bakat si anak.

2. Mengurangi jumlah murid dalam kelas dan memperbanyak sekolah.
Klo satu kelas ada 40-an murid, si anak sendiri bakal bingung ngapalin nama-nama temennya, plus pelajaran jadi tidak terfokus karena ributnya kelas atau banyaknya murid, cukup 20 orang deh. Dengan menambah banyaknya sekolah di daerah-daerah selain bisa memberikan peluang bagi anak-anak doseluruh Indonesia juga dapat meningkatkan pendidikan bangsa plus menarik tenaga-tenaga kerja honorer menjadi guru tetap supaya mereka dapat bekerja dan berpenghasilan layak.

3. Menyamaratakan mutu pendidikan.
Kalau ada sekolah biasa, sekolah bertaraf nasional dan internasional, itu berarti belum ada penyamarataan mutu. Jika semua sekolah berstandar nasional maka semua sekolah di Indonesia berstandar nasional. Dan semua kurikulum dan mata pelarajannya seluruhnya disamakan tanpa ada perbedaan rayon, pulau atau sebagainya.

4. Tidak memperbolehkan seorang murid membawa kendaraan bermotor.
Selain mengurangi kemacetan juga polusi udara. Pakailah sepeda atau becak huehheheh… kurangi peringkat indonesia sebagai salah satu negara penyumbang polusi terbesar didunia!!!

5. Meniadakan kesenjangan di aera pendidikan/sekolah.
Soal kesenjangan sosial yang terjadi dikalangan para murid atau dunia pendidikan adalah keseragaman perlengkapan sekolah, misalkan ajah uniform, memang satu sekolah bajunya sama tapi bedanya adalah ada yang putih ada yang kucel atau ada beberapa tahun ga ganti. Itu bukan hal yang mudah disepelekan lho, terkadang hal tersebut dapat membuat seorang anak menjadi minder atau juga jadi sok. SO, kenapa ga ngambil sistim kaya diJepang dimana uniform, sepatu (sepatu didalam ruangan sekolah, atau kalau perlu diluar sekolah juga), kaos kaki dan tas juga disamakan. Selain tidak menimbulkan kesenjangan juga sebagai identitas seorang murid dari sebuah sekolah, dan diganti setahun sekali, tapi tetap dengan model yang sama. Dulu waktu SMU, yang membedakan SMU gw ma SMU lain adalah dasi yang kita pakai lho. Seakan-akan menjadi kebanggaan tersendiri karena setiap model baju seragam (uniform) kita menjadi identitas sekolah kita.

Tidak hanya pemerintah aja ko yang bisa merubah sistim pendidikan, kalau kita semua bergabung dan memiliki visi dan misi yang sama pasti kita bisa memperbaiki sistim pendidikan di Indonesia, dan pemerintah juga ga kan berhasil kalau kita tidak turut serta kan? Nah, ayo kita perbaiki sistim pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik dan lebih bermutu supaya generasi-generasi muda kita membangun Indonesia dengan pemikiran-pemikiran yang brilian dan penuh tanggung jawab.

Namanya juga berandai-andai… ya ga? Keep writing,

See You All😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: