h1

All Side of The Dragon : Side A

Januari 12, 2010

竜 の 八面 / たつ の はちめん / Tatsu no Hachimen / All Side of The Dragon

Original Draft by : PritaChubby

Prologue

Pedang Kusanagi (Kusanagi no tsurugi / Ame no Murakumo no Tsurugi) yang termasuk dalam pedang pusaka kerajaan didapat dari ekor Yamata no Orochi, naga besar berkepala delapan dan berekor delapan yang dikalahkan oleh Susanoo no Mikoto. Pedang tersebut menjadi sumber dari berbagai dongeng dan menjadi pedang terkenal yang kekuatannya dapat menjadikan pemiliknya sebagai orang terkuat seperti Yamato Takeru.

Dan jika naga berkepala delapan dan berekor delapan itu terlahir kembali dalam wujud lain, apa yang terjadi dengan dunia manusia?

***

Side A : Minato Fuuka & Shibuya Hotaru


23 Juli. Tokyo.

Gadis itu menatap lesu keluar jendela. Pikirannya sedikit terpencar saat menatap beberapa murid yang lebih dulu keluar dari gedung sekolah. Ia menoleh kearah kertas dimejanya dan menatap angka-angka yang berderet rapi dan tanda tanya dibelakangnya.

Sementara itu seorang wanita cantik duduk di meja guru dan sesekali melirik kearahnya sambil mengerutkan kening. Buku catatan yang ia pegang berisi data-data mengenai diri gadis itu beserta fotonya.

“Minato Fuuka.” panggilnya.

Gadis itu mengangkat wajahnya dan memandang wanita itu dengan ragu.

“Ya, sensei(guru)?”

“Sebaiknya cepat kau kerjakan soal ujian itu. Setelah itu kau bisa pulang dan istirahat.” jelasnya sambil memasang senyum terbaiknya, “Besok upacara penutupan, kau boleh tidak datang.”

Gadis itu mengangguk pelan dan mulai mencoret-coret kertas ujiannya.

Wanita itu kembali menatap catatan dibukunya. Minato Fuuka, seorang Hikikomori (orang yang mengisolasi dirinya dari lingkungan sosial). Seharusnya masuk sejak awal April lalu, tapi sama sekali tidak pernah muncul disekolah dan hanya muncul saat kedua orang tuanya datang mengantarnya untuk mengikuti ujian semester.

Di cacatan tersebut tidak ada masalah dengan tingkat intelektualitasnya, bahkan bisa dikategorikan sebagai seorang jenius. Tidak ada catatan trauma ataupun penyakit lainnya, hanya seorang penyendiri yang lebih senang berada didunianya dan mengurung diri didalam rumah.

Tak berapa lama kemudian gadis itu meletakkan pensilnya dan beranjak berdiri. Dengan perlahan dan tenang ia menyerahkan kertas tersebut kedepan meja wanita itu dan kembali ketempat duduknya untuk merapikan barang-barangnya.

“Minato.” panggil wanita itu lagi.

Gadis itu menoleh.

“Kuharap kau bisa datang kesekolah lebih sering, dan… cobalah untuk melihat teman-teman sekelasmu.”

“Apa… sensei merasa tidak suka padaku?” tanya gadis itu dengan suara tenang tapi dingin.

Wanita itu terkejut.

“Eh?! Tidak bukan begitu!” serunya sambil menggelengkan kepala. “Aku senang kau datang, walau kau hanya mengerjakan soal saat semuanya sudah pulang. Aku senang kau mau datang ke kelas ini. Tapi…”

Ia menatap gadis itu dengan hati-hati.

“Akan sangat menyenangkan jika kau bisa mengenal banyak orang.”

Gadis itu hanya mengangguk pelan dan memakai tas ranselnya. Ia berjalan kedepan kelas dan membungkuk sebentar untuk memberi salam pada gurunya dan keluar dari kelas tersebut.

Kini koridor mulai kosong dan sedikit gelap, hanya sinar matahari sore saja yang menyinari sebagian dindingnya. Saat ia menuruni tangga, beberapa murid laki-laki menatapnya sambil menyeritkan kening. Fuuka mengabaikannya dan berusaha untuk tidak membalas pikiran-pikiran negatifnya.

Dirinya sendiri mulai melawan sisi gelapnya yang memintanya untuk tetap berada dirumah tanpa melakukan apapun. Ia tidak lagi ingin orang tuanya khawatir akan masa depannya.

Dengan langkah pelan ia menuju lokernya, untuk pertama kalinya ia memegang loker miliknya dan membukanya. Sebuah kotak kecil kosong. Ia meletakkan sepatunya disana dan menatap sepatu itu sebentar.

1-A.

Itu tulisan yang tertera disepatunya.

“Selamat tinggal, sepatu.” gumamnya pelan sambil membuka kotak sepatunya yang ia pakai dari rumah.

Dengan perlahan ia kembali berjalan meninggalkan gedung sekolah tersebut, matahari sore menyambutnya dan membuatnya menutupi mata dengan punggung tangannya. Pertama kalinya juga, ia melihat matahari sore dari luar gedung sekolah SMU-nya. Beberapa siswi terlihat terburu-buru mengejar temannya yang telah lebih dulu berada didepan gerbang dan saling memanggil nama mereka.

Fuuka menatap mereka, dan kemudian menundukkan kepalanya. Ia meraih ponsel disakunya dan menatap jam dilayar ponsel tersebut.

“Ini sudah waktunya…” gumamnya pelan sambil menatap kearah jalan besar didepan gedung sekolah.

Seharunya ibunya telah menjemputnya dari lima menit yang lalu, tapi tak ada satupun mobil yang menunggu didepan gerbang.

Ia menyandarkan tubuhnya di depan gerbang sambil menundukkan kepala. Dimain-mainkannya tumit sepatunya dan bergumam pelan. Menyanyikan lagu-lagu yang hanya ia kenal dan sesekali mengangkat wajah dan menoleh keujung jalan.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tigapuluh menit kemudian.

Tetap tidak ada satu mobilpun yang datang.

Ia menatap layar ponselnya dan sedikit terkejut saat ponselnya menampakkan layar dengan gambar amplop.

“Email?” gumamnya.

Ia membuka flip ponselnya dan membuka pesan tersebut.

‘Maaf. Hari ini ibu tidak bisa menjemputmu, bisa kan kau pulang sendiri? Ini petunjuk untuk naik kereta…’

Sebelum membaca terusannya Fuuka langsung menutup ponselnya dan memasukkannya kesaku roknya lagi. Digertakkannya giginya sambil berjalan menjauhi gedung sekolah. Kakinya melangkah sejauh yang ia inginkan. Berbelok hanya menuruti perasaan dan menemukan sebuah sungai besar dengan jembatan yang terbentang menghubungkan antar tepi sungai tersebut.

Ia menatap kearah permukaan sungai yang memantulkan cahaya matahari. Wajahnya terlihat bosan dan hanya bisa menghela napas sambil membalikkan badan untuk kembali berjalan. Matanya menangkap satu titik dibagian bawah jembatan. Sebuah kepala tanpa tubuh. Matanya terlihat shock dan seluruh wajahnya terkena cipratan darahnya sendiri. Rambutnya yang coklat terang terlihat kusut seperti orang yang habis ditarik rambutnya dengan paksa.

“Aku…” Fuuka mengambil ponselnya dan menatap tombol-tombol dilayar ponselnya. Angka yang ada dalam pikirannya hanya ‘110’ tapi sebagian dari hatinya menolak untuk menekan angka-angka tersebut.

“Untuk apa? Toh tidak ada untungnya bagiku, kecuali itu harta karun.” pikirnya.

Ia memutuskan untuk tidak menghubungi polisi dan kembali berjalan sambil menjauhi area sungai tersebut.

Pikirannya sedikit terganggu dengan pemandangan dimana kepala tanpa tubuh itu menatap kearahnya, berulang kali ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan tersebut.

Tiba-tiba seorang pemuda menabraknya dan membuatnya terjatuh.

“Ma-maaf… aku terburu-buru!” serunya sambil mengulurkan tangannya.

Fuuka mengangkat wajahnya dan menatap pemuda tersebut.

Rambunya hitam dicat sedikit merah dan ikat kepala didahinya membuatnya terlihat seperti berandalan sekolah. Bahkan gokuran (baju seragam untuk murid laki-laki) miliknya sama sekali tidak dikancingkan dan dibuat sepanjang lutut seperti pemuda berandalan tahun 60-an.

Fuuka menjabat tangannya dan pemuda itu segara membantunya berdiri.

“Jangan lari!!!” seru lima orang pria dibelakangnya sambil mengacungkan katana (pedang berukuran 60-90 senti) yang berlumuran darah.

“Ugh… sial!”

Ia langsung menarik Fuuka dan mengajaknya berlari.

“Eh…”

“Larilah lebih cepat, kau juga bisa terbunuh!” serunya sambil berlari lebih cepat dan membuat Fuuka hampir kehilangan keseimbangan karena menyamakan kecepatan larinya.

Ia menoleh kebelakang sambil berlari, kelima pria itu masih mengejarnya dan mengacung-acungkan katana tersebut.

Mereka berlari kesebuah pabrik tua didekat sungai dan bersembunyi dibalik besi-besi beton yang seharusnya menjadi penyangga gedung tersebut, tapi kini tergeletak berkaran disisi gedung yang terbengkalai. Fuuka berusaha mengambil napas melalui mulutnya danmenghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-parunya yang terasa sakit.

Sementara itu mepuda berambut hitam kemerahan disampingnya terlihat waspada sambil mengatur napasnya perlahan-lahan. Ia sedikit menyalahkan ibunya karena tidak menjemputnya dan akhirnya menghadapi kejadian seperti ini, tapi ia juga menyalahkan dirinya yang justru berlama-lama berada ditepi sungai dan tidak segera membuka ponselnya untuk mengetahui jalan pulang.

“Maaf ya, jadi membuatmu terlibat.” kata pemuda itu sambil menepuk kepalanya.

Fuuka langsung menarik tangannya dan menyingkirkan tangan pemuda itu.

“Aku mau pulang. Aku tidak mau berurusan denganmu.” gumamnya sambil berdiri.

“Disana!!!” seru seseorang jauh dibelakangnya.

Pemuda itu langsung mengumpat dan menyembunyikan dirinya, sementara Fuuka hanya menoleh dan menatap takut kearah mereka. Ia menatap kearah pemuda tersebut yang langsung membuka perban ditangan kanannya dan memperlihatkan tangannya yang terlihat seperti melepuh.

“Kalau begini, tidak ada cara lain.” gumamnya sambil berdiri.

Ia menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan untuk melompati besi dihadapannya, dan besi tersebut langsung meleleh dan menimbulkan asap disekeliling tangannya. Ia mengibas-ibaskan telapak tangannya sambil meniup-niup pelan.

“Dia…” gumam Fuuka dalam hati.

“Kau diam disitu!” perintahnya.

Tanpa disuruh begitu, Fuuka sudah merunduk dan hanya mengintip dari balik besi sesekali.

Ia menatap pemuda tersebut berkelahi mengepalkan tangan kanannya dan mengayunkannya kearah pria-pria tersebut. Hanya saja para pria itu menghindar dengan mudah dan hanya mengayunkan pedangnya pada tangan kanan pemuda yang melepuh itu.

Fuuka menatap mereka dengan seksama, dan matanya terpaku pada gerakan saat pemuda itu menghidari tepi pedang dan mengayunkan tinjunya. Ia menyadari bahwa gerakan pemuda itu terlihat canggung dan ia selalu meringis setiap kali melompat ataupun menjejakkan kakinya ketanah.

“Dia… terluka?” pikirnya.

Salah satu dari keempat pria itu menjegal kakinya dan membuatnya tersungkur ditanah. Keempat orang lainnya langsung memegangi kedua kaki dan tangannya sementara satu orang pria menodongkan ujung pedangnnya tepat kebelakang lehernya.

“Nah… coba kalau kau menurut dari tadi, kan kami tidak perlu susah-susah memenggal kepala temanmu.” gumam pria itu.

Fuuka langsung membalikkan badannya, ia teringat akan kepala yang tergeletak dibawah jembatan.

“Jangan-jangan itu…” pikirnya.

Ia kembali mengintip saat pria tersebut duduk diatas tubuh pemuda itu dan menarik rambutnya keras-keras hingga kepalanya mengadah keatas. Bilah pedangnya ia ayunkan keatas dan siap menembus tenggorokan pemuda itu dari belakang.

“Jangan!” gumam Fuuka pelan.

Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat jantungnya terasa panas dan berdegup kencang. Pikirannya ingin segera berlari untuk menolong pemuda itu, tapi seluruh tubuhnya seakan terpaku ditempat tersebut.

“Apa ada pesan terakhir, nak?” tanya pria itu sambil tersenyum, keempat temannya tertawa kecil. “Yah, walau kami tidak akan menyampaikannya pada siapapun. Lagipula setelah ini kami mau bersenang-senang dengan uang 1 milyar dari hasil penjualan kepalamu.”

Fuuka mengepalkan kedua telapak tangannya.

“Kumohon, siapa saja… tolong dia!” pikirnya.

Jantungnya semakin berpacu dengan cepat seolah hendak meledakkan tubuhnya dari dalam.

Ia terus menatap pemuda itu yang benar-benar tidak ingin menyerahkan nyawanya.

“Matilah dengan tenang, nak.” gumam pria itu sambil menghunuskan pedangnya kearah belakang tengkuk pemuda itu.

“JANGAN!!!” seru Fuuka sekuat tenaga.

Angin berhembus dengan kencang dan menebakan debu-debu dari lapangan pabrik tersebut, beberapa benda yang ringan dan kecil terhempas begitu saja. Kelima pria itu terdiam saat melihat tubuh Fuuka yang selimuti angin dan membuat rambutnya berkibar.

Mereka menatap kearah langit dimana naga berwarna putih transparan tergambar disana dan meliuk-liukkan tubuhnya diantara awan.

“Waaah… hari ini kita mujur. Dua milyar!” kata pria yang membawa pedang tersebut sambil berdiri.

Pemuda itu merasa bahwa kekuatan yang mengunci tubuhnya berkurang, ia langsung mengambil kesempatan tersebut dan berontak.

“Hei!” seru salah satu pria yang melepaskan tangannya karena terkejut.

Kini pemuda itu juga melihat Fuuka yang hanya berdiri diam dan menatap kelima orang pria itu dengan wajah dingin.

“Kau membunuh orang demi uang?” tanyanya.

Pria pembawa pedang itu beranjak mundur saat ia menyadari angin yang menyentuh wajahnya menggores permukaan kulitnya.

“Me-memangnya… kenapa?” katanya gugup.

“Kau mendengar ia berteriak kesakitan?” tanyanya lagi.

Kali ini angin berhembus semakin kuat dan tiba-tiba wajah pria itu mengeluarkan darah dari beberapa permukaan kulitnya yang tersayat tanpa ia sadari.

“Aku yakin kalian mendengarnya, tapi kalian tidak merasakannya bukan?” tanya Fuuka lagi. “Bagaimana kalau kuajarkan bagaimana rasanya mengenali rasa sakit?”

“Hei, hei… temanku yang terbunuh.” kata pemuda itu sambil tersenyum menyeringai kearahnya. “Jadi… biar aku yang membalaskan dendamnya ya.”

Fuuka terdiam, angin yang menyelimutinya perlahan-lahan memelan.

“Paman, aku mangsa pertamamu kan?” tanya pemuda itu sambil berlari kearah mereka dan menempelkan telapak tangannya ketubuh salah satu pria tersebut.

“Huaaaa… panaaasss…” teriaknya saat tangan kanan pemuda itu menempel dadanya dan baju disekeliling telapak tangannya terbakar dan memperlihatkan permukaan kulit pria itu yang mulai menggosong. Saat pria itu tersungkur ditanah, pemuda itu tersenyum dan menatap keempat lainnya.

“Jujur saja… walau tampangku begini, aku tidak hobi membunuh.”  jelasnya, “Jadi, katakan pada pemimpin kalian. Hadapi aku jika menginginkan kepalaku!”

Keempat pria itu terlihat ketakutan, mereka menoleh kearah Fuuka yang masih diselimuti angin disekelilingnya sebagai pertahanan dan kunci serangannya. Akhirnya mereka memutuskan untuk lari dari tempat itu dan membiarkan tubuh temannya disana.

Pemuda itu mendekati Fuuka dan tersenyum lebar.

“Hehe… terima-“

Kata-katanya terhenti saat Fuuka sama sekali tidak menyingkirkan angin yang menyelimutinya.

“Oi, bisa disingkirkan dulu anginnya? Kulitku berdarah nih.” gumam pemuda itu sambil memperlihatkan tangannya yang tersayat tipis dan berdarah.

Fuuka menghela napas.

“Tidak tahu caranya.”

Setelah diberi tahu untuk meredakan amarahnya sebagai kunci pengaktifan kekuatannya, Fuuka berhasil memudarkan angi disekelilingnya dan kembali seperti gadis biasa. Ia berjalan kearah pria yang dadanya mengucurkan darah dan hampir sekarat. Ia berpikir untuk menghubungi ambulan atau tetap membiarkanya sebagai bentuk pelajaran.

“Halo, Rumah Sakit Naniwa? Aku butuh ambulance, ada pria tergeletak didekat pabrik yang terbengkalai, kondisinya parah.” jelas pemuda itu sambil berbicara dengan seseorang ditelpon. “Ya, dekat sungai Arakawa. Cepatlah, manusia tidak tahu kapan ia akan mati.”

Fuuka menatap pemuda itu dan bertanya-tanya dalam hatinya.

“Kau… menolongnya?” tanyanya saat pemuda itu selesai menutup telponnya dan melemparnya ponsel yang kedekat tubuh pria itu.

“Ya. Sebab dia manusia.” jawabnya singkat.

Mereka keluar dari pabrik tersebut dan berjalan kearah sungai dimana tadi Fuuka menemukan kepala tersebut. Sebuah ambulance dan beberapa pria mengangkut sesuatu dalam plastik kuning besar dan memasukkannya kedalam ruangan ambulance tersebut. Beberapa orang yang berkerumun disana sambil menampakkan wajah ngeri, sementara pemuda itu kembali memasang perban yang ia bawa disaku seragamnya dan mengikatnya untuk melilit tangannya yang melepuh.

“Kenapa… mereka menginginkan kepalamu?” tanya Fuuka saat ambulance tersebut beranjak pergi dan orang-orang yang berkerumun disana mulai bubar.

“Sebentar lagi mereka juga mengincar kepalamu.” gumam pemuda itu sambil tersenyum lebar.

Fuuka menatap kearahnya dengan wajah tidak percaya.

“Hehe… selamat datang didunia yang kejam ini.” gumamnya sambil tersenyum lebar.

“Jangan bicara seolah ini masalah orang lain!”

Dikamarnya, Fuuka membalut tangan pemuda itu sambil mendengarkan ceritanya. Sesekali ia mengangguk saat ian mengerti sesuatu dan mengerutkan keingnya saat ia tidak mempercayai sesuatu.

“… pokoknya akan ada enam orang lagi yang seperti kita. Ung, mungkin kekuatan mereka sudah bangkit lebih dulu dari pada aku ataupun kau, tapi… mungkin juga belum. Aku tidak pernah bertemu yang lainnya, tapi si om-om itu bilang mereka sudah pernah menangkap satu orang. Aku tidak tahu apa tujuan mereka, tapi jika kepala kita dihargai seorang 1 milyar, itu berarti kekuatan kita benar-benar dipakai untuk menguasai dunia, setidaknya itu yang bisa kupikirkan, Aww-“

Ceritanya terhenti saat Fuuka mengikat perban tersebut dengansimpul mati dan menariknya kuat-kuat.

“Selesai.” gumamnya sambil menutup kotak obat.

“Hei, Fuuka… apa sebaiknya kita melarikan diri ke pulau terpencil diluar Tokyo untuk sementara waktu? Tidak menjamin tidak akan mati sih.”

Fuuka meletakkan kotak obatnya diatas lemari kamarnya dan kembali berjalan kearahnya. Ia duduk diatas kursi belajarnya dan membalikkan badannya menghadap meja.

“Kita?” tanyanya, ia terdiam sejenak.

“Silakan jika kau ingin lari, aku hanya perlu sembunyi dikamar ini lagi dan memutuskan hubunganku dengan dunia luar seperti biasa. Dan kau… sebaiknya cepat pergi sebelum orang tuaku pulang dan berpikir yang aneh-aneh!”

Pemuda itu menyeritkan keningnya.

“Kau tidak mengenal mereka, aku telah lari dari rumahku sejak kekuatanku muncul dan aku tidak menemukan orang tuaku sama sekali, bahkan adikku juga.” jelasnya, “Mereka menghilang saat pertama kali aku bertemu dengan orang-rang pengejar kepala itu dan aku berhasil kabur, tapi esok harinya, aku seperti orang yang tidak punya rumah dan sama sekali tidak pernah terlahir.”

“Mana ada yang begitu!” seru Fuuka.

Ia mendengar derum mobil yang berhenti dari luar rumahnya. Fuuka segera berdiri dan mendekati jendela. Dilihatnya mobil sedan hitam yang berhenti didepan rumah dan memasuki garasi disebelah halaman. Seorang wanita keluar dari garasi dan berjalan melesati halaman menuju pintu depan.

“Ibuku pulang!” katanya dengan nada panik. Ia menoleh kearah pemuda itu dan menariknya kearah jendela.

Ia membuka panel jendela lebar-lebar dan mendorong tubuh pemuda itu kesana.

“Lompat!” katanya tegas.

Pemuda itu menatapnya tak percaya.

“Aku bilang lompat!” katanya lagi dengan wajah dingin.

“Ka-kakiku… sakit…” gumam pemuda itu dengan nada memelas.

Ia mendorong medua itu keluar dari jendela kamarnya dan mengulurkan jarinya  kebawah.

“Huaaa…”

Pemuda itu terjatuh kehalaman dan angin tipis mengelilinginya sebelum ia terjerembab ketanah.

“Fiuh…”

Pemuda itu menginjakkan kakinya ketanah dan menghela napas lega. Ia mengadahkan wajahnya dan tersenyum kearah Fuuka.

“Terima kasih!” serunya.

Ia berlari kearah pintu garasi yang terbuka dan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan badannya kearah Fuuka.

“Namaku Hotaru! Shibuya Hotaru!” serunya.

Kemudian ia kembali berlari.

Fuuka menutup jendelanya rapat-rapat.

Ia membaringkan dirinya di tempat tidur dan menatap kelangit-langit kamarnya. Bayangannya mengenai kepala yang terputus itu hampir menghilang walau ia ingin mengingatnya, lalu kekuatan yang tiba-tiba muncul tanpa perasaan terkejut. Entah kenapa tubuhnya seolah telah akrab dengan kekuatan baru tersebut dan sama sekali tidak merasakan bahwa ia sekarang lebih aneh dari pada seorang hikikomori.

Diingatnya lagi kata-kata Hotaru saat itu.

“Delapan orang dengan kekuatan untuk mengendalikan elemen yang ada dialam, dalam artian lain kekuatan yang melebihi manusia biasa… Jika satu kepala seharga 1 milyar, maka orang yang menginginkannya kemungkinan memiliki keinginan untuk menguasai dunia… mereka sudah mendapatkan seseorang yang sama dengan kita sebelumnya… tidak dikenali seakan tidak pernah lahir.”

Ia memejamkan matanya sejenak.

Dari luar kamarnya ia mendengar suara ibunya memanggil.

“Fuu-chan? Kau sudah pulang? Aku sudah membeli cake kesukaanmu dari toko dekat stasiun. Kalau kau mau, aku akan membawakannya didepan pintu kamarmu!”

Hari pertama berusaha keluar dari cangkang tebal dan berusaha berdamai dengan dunia luar, hari itu juga hidupnya berubah drastis.

<く / tsudzuku / to be continued>


* This is a fiction story, there’s no relation to same name, places or any moment.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: