h1

Forgiving is simple and easy, but being forgiven is hard!!!

Desember 9, 2011

Some people say…

Orang bijak berkata, mereka yang mau memaafkan dan cepat-cepat meminta maaf jika melakukan suatu kesalahan adalah orang yang sangat baik.

Hey!! Didunia ini tidak semua masalah selesai dengan minta maaf! Apa kalau ada orang yang berhutang padamu selama lima tahun dan kabur lalu suatu ketika dia datang lagi dan minta maaf, kau akan maafkan tanpa meminta hutangnya? Ung… ya, itu masih mungkin.

Oke, ganti perkara!! Bagaimana kalau orang itu telah membunuh semua keluargamu, menjebakmu hingga masuk penjara, keluar dari penjara… rumahmu sudah tidak ada dan kau jatuh miskin hidup melarat dijalanan. Apa kau mau memaafkannya kalau dia tiba-tiba muncul dan minta maaf? Bedah dulu hatinya apa warnanya hitam atau putih!

Nah, tak semua kesalahan bisa diampuni dan tak semua orang mudah¬† untuk mengucapkan kata ‘maaf’, apalagi kalau dia tipe orang yang egois (look to anywhere…)

Kemarin hal seperti ini baru saja terjadi. Perkaranya tidak seberat permasalahan diatas dan sebenarnya agak sepele. Aku membuat rencana yang menyenangkan judulnya ‘Lets go to watch Puss In Boot’ tapi lima menit kemudian dibatalkan dengan alasan ‘akhir bulan masih jauh, uang saku menipis.’ Lalu seorang dewi datang dan menghampiri nasibku dan temanku yang memang sedang suram tanpa hiburan. Untuk informasi tambahan, nama sang dewi ini benar-benar Dewi lho.

Tapi mengingat kondisi temanku yang sudah seperti keluarga, aku menolaknya dan mengatakan ‘Hei, dia sedang sakit dan mau ujian, nanti kalau sakitnya tambah parah dan absen saat ujian nggak ada yang mau disalahkan kan?’ Dan akhirnya sang Dewi pun pergi untuk mendatangi orang lain yang butuh hiburan, meninggalkan dunia kami yang kembali suram. Lima menit kemudian aku baru sadar bahwa temanku yang bagaikan saudara itu memasang aksi protes dengan tutup mulut, tutup kamar dan sama sekali nggak mau memandang kalau ketemu. Rasanya seperti ditolak pacar karena salah memberi hadiah waktu ulang tahunnya. Menyedihkan (siapa suruh nolak rezeki).

Tapi setelah didiamkan tiga hari, setelah dia tahu aku absen karena penyakit orang merantau yang dompetnya selalu tipis, dia akhirnya meminta maaf duluan. Dia kembali buka mulut, kembali buka pintu kamar dan yang sedikit menyedihkan dia mengasihani orang yang sedang sakit ini. Kenapa rasanya aku yang jadi orang jahatnya?

Oh, satu hal yang akhirnya membuatku bersyukur sudah berbaikan lagi dengan temanku itu. Aku bisa kembali nonton TV. TV lho, TV! Didunia manapun TV adalah hal ketiga yang kubutuhkan selain mi instan dan komik (hikkikomori mode : ON). Tanpa TV dunia terasa hampa, tanpa TV aku jadi orang terbelakang dan tanpa TV aku nggak tahu apa besok harus bawa jaket atau payung. Aku berterimakasih pada penemu TV, walau kita nggak bisa bertemu tapi aku mengagumi kehebatanmu.

Ung, ngomong-ngomong aku penasaran. Bagaimana caranya pihak stasiun televisi menentukan sebuah rating acara? Kecuali untuk paid per view, kita yang menonton gratis dirumah cukup hanya dengan mencolokkan kabel ke stop kontak. Bagaimana mereka bisa tahu acaranya ditonton sejuta orang atau cuma lima orang? Apa didalam televisi ada alat yang bisa mengirimkan sinyal ke pihak stasiun televisi bahwa kita sedang menonton acara mereka? Aku sangat pe-na-sa-ran.

Bagi kalian yang mengerti, harap beri tahu saya dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Ciaossu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: