h1

Rainy Days & Mondays


D x H x A :: ExtraOrdinary Quaters

Rainy Days

&

Mondays

Hujan yang turun dihari itu, membuatku sadar. Aku bukan lah teman mereka, melainkan hanya seorang pesuruh. Hanya orang yang akan dijadikan kambing hitam saat mereka melakukan kesalahan. Hanya orang yang akan berdiri dibelakang dan merasa ketakutan saat semua orang menjauhiku dan mengucilkanku.

Kenapa? Apa salahku sampai mereka seperti itu? Aku tidak pernah menyakiti siapapun. Kenapa aku harus dikucilkan? Apa karena aku lemah? Apa karena aku tidak bisa berbuat senekat mereka???.

***

Hari senin dibulan April. Hari itu adalah hari upacara masuk sekolah. Hari pertamaku sebagai murid SMP. Banyak para murid yang datang dengan orang tuanya. Begitu juga denganku. Entah kenapa aku merasa malu, sudah SMP tapi masih diantar oleh orang tua. Hal seperti inilah yang membuatku dikucilkan oleh teman-temanku dari SD. Entah apa mereka bisa kuanggap teman? Karena selama yang kutahu… aku tak punya teman dan hanya dijadikan pesuruh dan bahan penindasan mereka.

“Eh, Asou… sini, sini” panggil ibuku diantara kerumunan para murid dan orang tua murid yang bergerombol melihat papan pengumuman pembagian kelas.

Aku mendekat kearahnya, tapi aku berhenti saat semua orang memandang kesatu arah. Aku mengikuti arah pandangan mereka. Dari luar pintu gerbang, sebuah mobil BMW keluaran terbaru baru saja berhenti. Dari kursi penumpang, seorang pemuda keluar dengan… ehem… kerennya. Dia tinggi… mungkin 15-20 centi lebih tinggi dariku, rambutnya juga coklat kemerahan, matanya biru… mungkin dia blasteran. Seorang wanita cantik memakai kimono mengikutinya, mungkin itu ibunya.

Entah kenapa rasanya aku terpana melihatnya, padahal aku kan juga cowok. Hanya saja tidak sekeran itu. Lalu pemandangan indah itu dirusak oleh sekelompok anak yang datang dengan brutalnya. Seorang anak perempuan berambut perak keunguan melompat melewati pagar sekolah, dan diikuti oleh beberapa anak laki-laki yang membawa pemukul baseball. Mungkin inilah gerombolah berandalan. Tapi… anak perempuan itu… cantik sih… tapi masa iya dia ketuanya???.

Dia berjalan menuju cowok yang tadi baru turun dari mobil kerennya, berdiri dihadapannya dan memandang tajam kearahnya.

“Hei, Inoue!!! Ayo kita tentukan siapa yang berkuasa di Jounan Josei ini” serunya sambil melipat kedua tangannya didadanya.

Cowok keren yang ternyata bernama Inoue itu hanya menghela napas, “Aku malas melayani anak kecil” katanya.

Lalu melewati gadis itu dan beberapa temannya. Dan ibu dari cowok berambut coklat itu membisikkan sesuatu ketelinga anaknya. Dan tanpa kusadari, ibuku telah berdiri disampingku.

“Nanti, kau jangan berteman dengan mereka ya” katanya pelan.

Aku hanya mengangguk. Bagiku mungkin aku kagum ke cowok berambut coklat kemerahan itu karena sikap kerennya. Tapi aku juga kagum pada gadis beramput perak itu karena keberaniannya.

***

Aku ditempatkan di kelas 1-D, dan seperti biasa… saat yang lain saling berkenalan, aku justru diam dimejaku. Sedikit malu dan takut, juga tidak tahu harus bicara apa. Tiba-tiba seseorang menghampiri mejaku.

“Eh, kau Asou kan?” tanyanya.

Aku mengangkat wajahku, seorang gadis berambut perak yang tadi pagi kulihat. “I, iyah”.

Dia mengulurkan tangannya, “Aku Asagi Yuuya, salam kenal”.

“Ya” aku menjabat tangannya.

Tapi entah kenapa ada yang terasa geli, dan mengganjal saat aku menjabat tangannya. Dia melepaskan tangannya, dan saat itulah aku melihat sesuatu berwarna merah panjang, menggeliat di telapak tanganku.

“Uwaaaa!!!” aku langsung mengibaskan tanganku kelantai.

Ternyata itu cacing tanah. Bagaimana dia… Aku menatapnya, sedikit jengkel saat dia menertawakanku. Seakan yang dia lakukan itu lucu, tapi… aku tidak bisa membalasnya dan terdiam sambil memandang tajam kearahnya.

“Ihihi, duh jangan melihatku seperti itu” katanya, masih sambil memegangi perutnya dan menahan tawa. “Makanya jangan diam saja dikelas, ayo ikut ke kantin” katanya.

Dia menggenggam tanganku, kali ini tidak ada yang membuatku geli. Tapi justru inilah yang kutakutkan. Bagaimana jika dia tidak mengajakku kekantin, tapi justru ketempat sepi. Memukuliku bersama teman-temannya yang tadi pagi. Membuatku luka parah dan tidak bisa masuk sekolah sampai semester satu selesai… Bagaimana ini…

Aku ingin sekali bisa melepaskan genggaman tangannya, tapi entah kenapa tidak bisa. Tidak sopan, mungkin. Tapi aku lebih takut lagi kalau melepaskannya dan dia akan menghajarku habis-habisan. Tapi… wajahnya manis… dan tidak terlihat seperti orang yang suka menindas orang lain. Didepan Automatic Machine dia berdiri terdiam, memilih jus yang akan dia beli. Aku juga memperhatikan mesin itu, hmm… kira-kira… jus strawberry saja.

“Asou…” panggilnya. Aku menoleh kearahnya.

Dia seakan mau menangis… wajahnya mengiba, “Aku mau jus jeruk… tapi… dompetku tertinggal dikelas…” jelasnya sambil mengiba.

“Ugh, jadi ini motifnya mengajakku” geramku dalam hati. “Oh, pakai uangku dulu kalau begitu” saranku sambil mengambil koin dari saku celanaku.

“Aku mau roti yakisoba juga, boleh?” tanyanya, masih dengan wajah mengiba. Dengan terpaksa aku mengangguk.

“Sial!!! Aku ditipu dengan gampangnya seperti ini!!!” geramku dalam hati.

Dia mengajakku untuk makan diatap, aku hanya mengangguk dan ikut dengannya. Yah, paling tidak, tidak ada penindasan dengan kekerasan sampai siang ini. Tapi… pernyataanku harus kuralat beberapa menit kemudian. Dia atap dia menyapa beberapa teman cowoknya yang tadi pagi. Benar yang kuduga… hidup memang tidak semudah yang kukira.

“Yuu-chan, siapa tuh?” tanya salah satu anah yang berambut biru terang, mungkin dia mengecat rambutnya.

“Dia teman sekelasku, Asou. Baik-baik dengannya ya” kata Yuuya sambil menarikku kesampingnya.

“Asou, dia Shiraishii Ken, Haga Ryuuno, dan terakhir Iseri Yousuke” katanya sambil menunjuk ke cowok berambut biru tadi, cowok berambut hitam cepak disebelahnya dan cowok berkacamata dan berambut coklat didepannya.

“Aku Furukawa Asou, salam kenal” kataku sambil sedikit membungkukkan badan.

“Aih, aih… dia terlalu formal ya” timpal Iseri saat melihatku membungkuk.

Aku menatap mereka satu per satu. Mereka tertawa kepadaku, dan tidakmenganggapku aneh, justru mereka sepertinya senang dengan kehadiranku. Yah, yang terpenting makan siang hari itu, menurutku adalah permulaan hari yang baik disekolah.

Sepulang sekolah, aku masih berjalan sambil membaca brosur-brosur klub yang dibagikan ke semua murid baru. Saat melewati sebuah gang sempit diantara pertokoan, mataku tertuju pada darah yang tercecer dijalan masuk menuju gang sempit itu.

“Ini darah sungguhan?” kataku sambil membungkuk melihat darah itu lebih dekat.

Mataku mengikuti arah darah itu, dan sebuah bayangan gelap di ujung gang membuatku penasaran. Aku memasuki gang itu, sampai akhirnya mataku bisa beradaptasi dengan gelapnya gang tersebut. Aku terkejut saat melihat seorang pemuda terduduk lemas dengan tangan dan kepala terluka. Aku langsung mendekatinya, dan menaruh tasku dilantai, membukanya dan mengambil beberapa plester dan saputangan untuk mengobati lukanya.

“Hei… kau ini siapa?” tanya pemuda itu.

Aku menatapnya, ternyata dia cowok yang kulihat pagi tadi… cowok berambut coklat kemerahan yang naik BMW itu. Aku langsung membersihkan luka ditangannya dengan saputanganku.

“Aku Furukawa Asou, satu SMP denganmu, tapi dikelas 1-D” kataku sambil mengelap darahnya.

“Hehehe, kenapa menolongku? lagipula sampai ada plester segala memang kau ini anggota PMR?” tanyanya sambil tertawa.

Dari suaranya mungkin dia sedang mengejekku, tapi entah kenapa aku tidak merasa dia begitu. Aku menempel plester dilukanya dan membersihkan luka dikepalanya.

“Dari kecil, aku selalu dipukuli dan dijadikan pesuruh oleh teman-teman lainnya” kataku, dia menatapku dan aku mengabaikannya den berkonsentrasi pada lukanya. “Terluka dan kesakitan sudah jadi bagian dari hidupku, jadi aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Aku tidak ada maksud apapun menolongmu, hanya karena aku ingin saja maka kulakukan”.

Aku menempelkan plester ke dahinya yang terluka. Dan berdiri, memasukkan brosur dan peralatan First Aid-ku ke tas ku lagi.

“Kau bisa berdiri?” tanyaku seraya mengulurkan tanganku padanya.

Dia tersenyum mengejek dan menjabat tanganku. Kukerahkan tenaga untuk mengangkatnya berdiri. Tapi dengan gampangnya dia telah berdiri dan aku harus mengangkat wajahku untuk menatapnya.

“Bagaimanapun juga… terimakasih, Asou” katanya lalu pergi meninggalkan aku.

Entah kenapa aku tersenyum dan berjalan keluar dari gang tersebut. Aku melihatnya telah hilang diantara kerumunan orang yang berjalan hilir mudik diantara pertokoan. Aku meneruskan perjalananku kerumah. Setidaknya hari ini… benar-benar tanpa masalah. Tiba-tiba kudengar seseorang memanggil namaku.

“Asou!!!, Furukawa Asou!!!” serunya dari jauh dibelakangku.

Aku menengok kebelakang, seorang gadis berambut perak berlari diantara kerumunan orang-orang, melambai-lambaikan tangannya kearahku. Apa iya hari ini benar-benar tanpa masalah… kalau bertemu dia selalu ada kejutan dan ketakutan…

“Ini” katanya sambil menggenggam tanganku dan menyerahkan beberapa uang koin ketanganku.

“Eh?” kenapa tiba-tiba? Ada apa ini?.

“Aku menemukannya di tasku, karena tadi hutang roti dan jus jadi harus langsung dikembalikan” katanya sambil mengatur napasnya yang masih tersenggal-senggal.

Aku menghela napas. Kenapa sampai harus terburu-buru sih. Dia mengangkat wajahnya dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya. Benar-benar gadis yang tidak bisa ditebak.

***

Kehidupanku selama ini di SMP berjalan dengan baik, seakan aku sudah lupa mengenai luka, sakit ataupun dijadikan pesuruh oleh teman-teman sekelas ataupun senior. Mungkin karena aku bersama Yuuya dan kawan-kawan, sehingga jarang ada yang menggangguku. Dan Inoue, cowok yang waktu itu kutolong… aku juga mengenalnya, walau tidak akrab, karena Yuuya dan teman-temannya membenci dia. Entah untuk alasan yang tidak kuketahui. Katanya sih karena dia pernah berebut roti yakisoba dan menjadi boss di SD mereka dahulu. Tapi… mungkin alasan yang lebih dari itu.

Dan tak lama aku menemukan jawabannya. Masalah yang selalu Yuuya simpan untuk dirinya sendiri, membuatnya harus terus tegak berdiri disaat dia ingin berlari menghindar. Pada saat permulaan bulan Juli, hujan mulai turun ke bumi. Mendinginkan hawa dimusim panas dan menebarkan aroma tanah yang basah.

Saat aku berbelok kearah blok rumahku, seorang gadis telah berdiri didepan pintu pagar. Rambutnya yang keperakan jadi terlihat berwarna abu-abu gelap karena terguyur hujan. Jaket jeans dan roknya pun basah kuyup, aku berlari mendekatinya.

“Yuuya, ada apa?” tanyaku sambil memegang kedua pundaknya.

Pertama kalinya aku melihat matanya sembab karena menangis, air matanya terjatuh bersama tetesan hujan yang turun. Ini bukan wajah mengiba saat meminta roti yakisoba atau jus kotak, wajah ini yang selalu dia sembunyikan dari semua teman-temannya.

Aku menaruh secangkir coklat hangat didepannya, menyuruh untuk meminumnya. Dia hanya mengangguk, rambut dan wajahnya tertutup handuk yang dia letakkan diatas kepalanya. Bajunya telah berganti dengan seragam olahragaku sementara bajunya yang basah dikeringkan dimesin cuci.

Aku menunggunya mengatakan sesuatu, yang terdengar diruang makan ini hanya suara detik jam dan tetesan hujan yang turun. Aku menghela napas.

“Minum dulu Yuuya” kataku, dia mengangkat wajahnya lalu tersenyum.

Senyum yang dipaksakan, “Terimakasih, Asou” katanya dengan suara serak.

Dia meneguk coklat hangatnya, memandang kesekeliling ruangan. Lalu tersenyum kepadaku, masih dengan senyumnya yang dipaksakan.

“Kau tahu tidak mengenai aku dan Inoue?” tanyanya sambil menatapku lurus.

Aku menggeleng.

“Umm… aku marahan dengannya” katanya singkat lalu menunduk, menatap meja.

Entah kenapa aku merasa sakit, apa dia berpacaran dengan Inoue? Tapi… sikapnya disekolah seakan sangat membenci Inoue. Dalam hati aku merasa sakit, mungkin… ya, mungkin aku… hanya cemburu pada Inoue.

“Ayahnya dan Ayahku masih kerabat dekat” katanya tiba-tiba.

Aku menatapnya, ya… semakin dekat dengan asumsiku.

“Ayahku…” dia berhenti sejenak, mengalihkan pandangannya kesudut ruangan, “Meninggal dua tahun lalu”.

Untuk saat itu aku terdiam, tidak lagi berpikir tentang hubungannya dengan Inoue.

“Dia, dulu menikah dengan ibuku karena ada aku. Yah~ bisa dibilang karena kecelakaan” jelasnya, “Keluarga besar Ayah sebenarnya tidak setuju. Tapi mau bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur. Sebenarnya Ibuku lebih ingin menggugurkan aku, tapi Ayah yang melarangnya. Sampai aku lahirpun, dia tidak pernah memandangku, aku hanya dan selalu bersama Ayah”.

“Waktu pertemuan keluarga, aku berkenalan dengan Inoue, saat itu kami masih kelas 3 SD. Bagiku dari dulu sampai sekarang… dia adalah orang yang keren, jadi aku ingin sekali seperti dia, tapi aku kan perempuan” dia tertawa kecil saat menceritakan hal itu, lalu melanjutkannya kembali.

“Saat Ayah meninggal, keluarga Ayah ingin agar aku diasuh oleh mereka, tapi aku menolak karena satu janjiku sesaat sebelum Ayah meninggal… yaitu ‘menjaga Ibuku’. Tapi… dia… sama sekali tidak menganggapku. Walau aku membelanya didepan tetangga-tetangga yang mencemoohnya, walau aku berkelahi demi dia… Dia tidak mengucapkan terimakasih atau bahkan tersenyum padaku. Tidak sama sekali”, dia menghela napas dan mengepalkan tangannya, “Saat itu mungkin aku lebih seperti anak berandal dari pada anak perempuan yang manis. Aku ingin sekali bisa melanggar janjiku, tapi tidak bisa… karena aku sayang pada Ayahku. Selama ini… dia selalu bekerja dikota lain, mengabaikanku, semua biaya sekolah masih ditanggung oleh keluarga Ayah, sementara itu… demi untuk bisa hidup… aku bekerja sambilan di toko milik kenalan Ayah. Dan aku tidka merasa berat sedikitpun”, sekali lagi dia menghela napas, kemudian menghirup udara dalam-dalam.

“Aku tak peduli padanya. Jika kami bertemupun… hanya ada perkelahian, aku terkadang melarikan diri menemui Inoue, tapi… dia… selalu membela Ibuku. Mengatakan kalau dia tidak bisa mengungkapkan kasih sayang, mengatakan kalau dia malu mengucapkan terimakasih lah. Aku benar-benar tidak suka, aku telah hidup selama 12 tahun lebih dengannya dan sampai saat ini tidak mengerti sifat dan sikapnya. Tapi Inoue… dia… seolah dia mengerti benar soal ibuku”.

Saat mengucapkan itu suaranya tertekan, seakan ingin teriak tapi tertahan. Baru kali ini aku melihat wajahnya memancarkan rasa sakit, baru kali ini aku melihatnya tanpa senyum yang biasanya. Rasanya aku sedikit mengerti, mengapa dia membenci Inoue, mengapa dia juga selalu ingin mengalahkan (atau itu salah satu cara untuk diperhatikan) Inoue. Aku menghela napas, dari ujung meja, aku mengusap kepalanya. Dia memandangku.

“Yah… rasanya aku sedikit mengerti” kataku sambil tersenyum, sesaat kemudian… air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.

“Eh? Aku salah ya?” tanyaku, apa karena aku dia menangis?.

Dia menggeleng, “Tidak, Asou” katanya pelan, “Makanya kenapa aku selalu bersama, Ken, Youuke dan Ryuuno… mereka orang yang ceria, begitu juga denganmu. Entah kenapa kalau cerita padamu rasanya jadi tenang”.

Aku tersenyum padanya, “Aku kan tidak memberi solusi apapun” kataku.

“Emm, menurutku memang tidak akan selesai” katanya, lalu matanya seakan menerawang jauh kedepan, “Tidak sampai, dia mau berubah, atau tidak sampai aku berubah. Tapi… aku ingin dia yang berubah dulu” katanya sambil meneguk coklat hangatnya lagi.

“Wah, Yuuya egois ya…” timpaku. Dia tertawa.

Hujan hari itu memang bukan hujan yang membuatku sakit teringat masa lalu. Memang rasa sakit yang kurasakan berbeda dengan rasa sakit yang dirasakan Yuuya, tapi… aku tidak lagi merasakan sakit setelah menemukan orang-orang yang membutuhkan aku. Orang-orang yang mau menerimaku.

Beberapa bulan saat aku dan Shiraishii Cs jalan-jalan ke Shibuya (katanya sih cari baju murah, tapi ternyata malah berburu mencari cewek). Aku melihat seorang gadis berambut perak yang diikat kebelakang, sedang bertengkar dengan pacarnya (?), cowok tinggi berambut coklat kemerahan.

“Hei, itu Yuu-chan kan?” tanya Iseri pada Shiraishii.

Kami semua menatap kearah gadis dan pemuda itu, sekali lagi… hatiku sakit, tapi langsung kutepis perasaan itu.

“Ehehe, mereka kencan ya?” tanyaku.

“Mana mungkin, lihat. Yuu-chan wajahnya kayak mau nangis gitu” Jawab Shiraishii.

Aku menatap Yuuya, memang wajahnya seperti ingin menangis sih.

“Pasti soal ‘itu'” timpai Haga, Shiraishii dan Iseri mengangguk.

“Ah~, Yuu-chan lari tuh” Haga langsung menunjuk kearah Yuuya yang berlari meninggalkan Inoue.

“Wah, wah… Inoue membuat tuan putri menangis. Kudu diberi pelajaran tuh” kata Shiraishii sambil mengepalkan tinjunya.

“Hei, Furukawa!” seru Haga, aku langsung menoleh. “Kau susul Yuuya, kami akan habisi Inoue” katanya lalu mereka berpisah denganku dan mengejar Inoue.

Aku menyusul Yuuya, menuju kearah taman. Pohon-pohon maple berjajar dikedua sisi jalan, warna oranye seakan memenuhi langit. Saat itu aku melihat Yuuya yang berjalan didepanku, dia tersenyum memandangi dedaunan maple yang diterbangkan oleh angin. Warna oranye yang menari-nari itu kontras dengan rambut perak dan jaket jeans birunya. Dan saat itu, aku tidak melihat air mata atau wajah sedihnya. Dia seakan menari waltz bersama daun-daun maple yang berguguran.

Ohya sebagai tambahan, dari Shiraishii Cs aku baru tahu bahwa Yuuya dan Inoue itu jago karate, bahkan selalu menang dalam perkelahian karena dari kecil telah diajari karate oleh kakek mereka yang dari luar negeri itu. Yah, rasanya aku jadi mengerti tentang mata biru Inoue dan rambut perak Yuuya sekaligus dengan rekor bertarung Inoue.

***

Hari itu, hari pertama diminggu kedua bulan September, hujan turun dengan derasnya, sialnya aku tidak membawa payung. Aku menutupi kepalaku dengan tas sekolahku. Sebagian blazerku sudah basar, mungkin juga kemejaku karena aku merasakan dingin dipunggungku. Tiba-tiba saja sebuah mobil van berhenti didepanku. Beberapa orang dengan seragam gokuran hitam mendekat kearahku dan mengayunkan pemukul baseball kearahku.

Aku terkejut dan terjengkang kebelakang, sakit… rasa sakit ini… aku menatap mereka, mencari penjelasan. Tapi sekali lagi mereka memukuliku, ternyata pemukul itu dari besi, rasa sakitnya tiga kali lipat dari pada dipukuli dengan tangan. Yang lebih parah lagi… aku tak tahu siapa mereka. Dan saat aku benar-benar telah lelah dan kesakitan mereka meninggalkan aku begitu saja. Tergeletak dijalan dan terguyur hujan. Aku menatap jalanan yang begitu sepi, tubuhku telungkup, ingin berbalik rasanya sakit. Aku melihat genangan berwarna merah bercampur dengan genangan air hujan. Ternyata aku terluka separah itu ya… darahnya terus menyebar dan tidak berhenti… bagaimana ini… apa aku akan mati… Tuhan… apa aku akan mati???

Disaat kesadaran diriku yang mulai menghilang, seseorang mendatangiku. Aku tidak bisa melihat siapa yang datang, karena terlalu lemah. Aku tidak lagi merasakan titik-titik hujan yang jatuh ketubuhku, yang kurasakan hanya dingin dan lelah. Disaat itu aku mulai tenggelam dalam kegelapan. Rasa dingin dan nyeri mungkin telah membawaku pergi kealam kematian.

Paling tidak aku bersyukur, jika aku mati… tidak akan ada pemukulan lagi… tidak terluka lagi… paling tidak tidak akan ada rasa sakit lagi. Mungkin sedih karena harus berpisah dengan teman-teman… terutama Yuuya. Ya ampun… ternyata orang mati pun masih bisa berharap untuk bisa dicintai ya???

***

Tubuhku terasa hangat, apa hujan telah berhenti… ah~ mungkin bukan hujannya yang berhenti… tapi rasa hangat ini pasti karena aku terlah terpisah dari tubuhku… hmm… alias… mati? Mungkin.

“Kau benar-benar mau mati?” tanya seseorang. Aku membuka mataku.

Seorang cowok berambut coklat kemerahan menatapku sambil duduk didekat kepalaku. Aku tahu wajahnya… rasanya familiar… siapa ya…

“Ah~, Inoue!!!” seruku, “Aduh” aku langsung merasakan sakit dikepalaku dan kembali terhempas diatas bantal.

Aku menyadari bahwa ruangan itu bukanlah jalanan yang waktu itu. Dinding dan langit-langitnya putih bersih, baunya… bau obat-obatan… masa sih…

“Ini…” aku mencoba menerka, apa mungkin ini rumah sakit?.

“Ya, dirumah sakit.” kata Inoue.

Aku menoleh kearahnya, ternyata dia duduk diujung tempat tidurku, disebelahnya gadis berambut perak tertidur sambil melipat kedua tangannya untuk menyangga kepalanya.

“Dia menunggumu semalaman” jelasnya saat aku memperhatikan Yuuya.

“Bagaimana…” aku bingung, bagaimana bisa aku disini?.

“Aku kebetulan lewat jalan yang sama, aku kaget saat melihatmu terluka parah. Sebenarnya siapa yang melukaimu sampai seperti ini?” tanyanya sedikit emosi.

Aku kembali mengingat kejadian waktu itu. “Gokuran mereka hitam, aku tidak sempat lihat wajahnya… gelap” kataku, “Tapi rasanya mereka menyebutkan sesuatu… umm…”

Aku mencoba meningat-ingat percakapa mereka sebelum meninggalkan aku dijalan. Umm… tapi apa ya…

“Eh, apa benar ini Inoue?” tanya salah satu orang yang memukulku.

“Hmm? Kenapa? Dari seragamnya kelihatankan?” tanya salah seorang lagi.

“Bukan… dia lebih tinggi dan rambutnya coklat kemerahan” jelas yang lain.

“Iya ya, anak ini… pendek… rambutnya juga coklat. Masa sih kita salah?” tanyanya.

“Waduh, segera kembali deh, kalau ketua tahu kita salah… bisa dihabisi” kata mereka.

“Sekali lagi Yuuhi Gakuen kalah” kata salah satu dari mereka, lalu disertai sebuah pukulan.

“Tidak, si Inoue pasti kita habisi lihat saja”.

Aku langsung teringat, Yuuhi Gakuen adalah salah satu sekolah yang terkenal suka mencari gara-gara. Tapi kenapa mereka mencari Inoue?

“Kau… ada masalah dengan murid dari Yuuhi Gakuen?” tanyaku.

Inoue lansung menatapku dengan tajam, “Yuuhi?”.

Saat itu dia langsung menoleh kearah lain dan berdiri, Yuuya terbangun karena gerakan Inoue yang tiba-tiba.

“Ung?… Inoue… kau kenapa?” tanyanya, lalu menoleh kearahku.

“Hoo… Asou sudah bangun!!!”serunya lalu beranjak berdiri dan pergi meninggalkan ruangan.

“Asou… tenang saja, aku akan membalas rasa sakitmu” katanya sambil melangkah menuju pintu keluar.

“Tidak, tidak perlu dibalas” kataku, aku tidak ingin dia berkelahi melawan mereka.

Dia terseyum sinis padaku, “Hanya sebagai tanda terima kasih yang dulu itu… tenanglah” katanya, lalu membuka pintu dan keluar ruangan.

Sial. Saat seperti ini… justru ingin mencelakakan teman. Apa-apan aku ini. Seharusnya aku tidak bilang padanya. Sial, sial, sial. Aku melepaskan jarum infus yang ada ditanganku. Mencoba duduk dan menginjakkan kaki dilantai.

“Ugh” rasa nyeri langsung menjalar disekujur tubuhku. Tulang punggung dan dadaku terasa sakit.

Tiba-tiba pintu terbuka, Yuuya langsung berlari kearahku.

“Apa-apaan kau!!! Jangan bergerak dulu” bentaknya, lalu dokter yang ada dibelakangnya membantuku naik lagi ketempat tidur dan membaringkanku.

“Lebih baik untuk sekarang, jangan terlalu banyak bergerak. Lukamu sangat parah, dan kau beruntung sekali” katanya.

“Yuuya, Inoue akan ke Yuuhi Gaku, tolong dia” kataku.

Yuuya terdiam, sepertinya dia tidak mengerti. Sial rasa sakitnya menyebar. Dokter tiba-tiba menyuntikkan jarum ketanganku. Seketika itu juga kepalaku mulai terasa berat. Apa-apaan ini? Obat tidur lagi? Yang benar saja.

“Yuuya… dia mau ke Yuuhi untuk membalas dendam… Inoue…” aku tidak bisa mengucapkan kata-kataku dengan baik. Sial obat tidur ini…

“Yuu… ya…” panggilku.

Dia hanya menatapku, dengan wajah yang datar, tanpa ekspresi. Dia tak pernah begitu sebelumnya. Yuuya… kenapa… kenapa tidak mengatakan sesuatu atau tersenyum padaku…

“Aku akan menyusulnya untukmu” katanya ditengah-tengah kesadaranku yang mulai melemah.

Menyusul… untukku… apa maksudmu… Yuuya.

***

Titik-titik hujan membasahi tubuhku, langit terlalu gelap. Aku hanya merasakan dingin dan kesepian. Seorang gadis kecil berambut perak mendekatiku, yukata-nya yang berwarna ungu terlihat sedikit gelap karena tetesan air hujan. Warna rambutnya membuatku ingat pada Yuuya. Gadis itu menatapku, warna matanya biru terang, apa warna mata Yuuya juga seperti ini? Rasanya warna matanya coklat gelap.

“Aku membawanya untukmu” katanya sambil menunjuk sesorang yang tergeletak disampingnya.

Seorang pemuda berambut coklat kemerahan, blazer birunya robek-robek dan berlumuran darah. Aku terkejut…

“Apa-apaan ini?” tanyaku sambil mendekati pemuda yang tergeletak itu.

“Dia Inoue kan? temanmu kan?” tanya gadis itu.

Aku membuka mataku, memandangi langit-langit yang putih bersih. Lampunya masih menyala terang, tapi diluar banyak sekali suara-suara berisik. Suara-suara yang terburu-buru, berteriak, ada bahka yang menjerit. Aku terduduk dikasurku, sekali lagi mencoba berdiri diatas kakiku sendiri. Rasa salkit dipunggung dan dadaku tidak begitu menggangguku. Aku menyeret tiang infusnya, membawanya berjalan bersamaku. Aku membuka pintu kamarku, beberapa orang dokter dan suster bergerak cepat menyeret tandu-tandu yang membawa orang yang berlumuran darah. Begitu banyak tandu, begitu banyak yang terluka… ada apa ini?

“Cepat masih ada beberapa mobil lagi yang akan datang!!! Cepat! Cepat!” seru seorang dokter yang memerintahkan semua orang bergerak lebih cepat.

“Ada apa?” tanyaku sambil mendekatinya.

“Kau ini, mana boleh keluar kamar” katanya sambil mendorongku masuk kekamarku.

“Iya tapi ada apa?” tanyaku lagi.

“Perkelahian antar sekolah, banyak yang terluka parah” jelasnya singkat.

“Perkelahian? Sekolah? Siapa?” tanyaku lagi, jantungku mulai berdetak cepat.

“Yuuhi, aku tidak tahu kenapa tapi ini pertama kalinya ada murid sebanyak ini terluka” gerutunya, “Mungkin rumah sakit ini tidak sanggup menampung seluruhnya”.

Aku terduduk di ranjang rumah sakit, memandangi lantai. Tidak percaya bahwa orang-orang yang terluka itu adalah murid-murid Yuuhi, bagaimana dengan murid-murid Jounan? Apa mereka ikut terlibat?. Aku… aku yang memberitahu Inoue. Aku… aku yang menyuruh Yuuya menolong Inoue. Aku… ini karena aku.

“Apa… apa yang telah… kuperbuat” kataku, rasanya rasa sakit itu datang dari arah jantungku. Menyebar keseluruh jaringan syarafku.

“Yuuya… maaf…”

Apa yang harus aku katakan padanya, dia pasti tidak akan berkata apa-apa. Hanya menatapku dengan pandangan sayu, dan jika bisa akan mengelus rambutku dan berkata ‘Bukan masalah’. Tapi… aku telah mengirim teman-temanku ke pertarungan, teman macam apa aku. Benar-benar bodoh.

“Yoo, Furukawa” sapa seseorang sambil membuka pintu.

Aku menganggkat wajahku, disana Shiraishii, Haga dan Iseri berdiri sambil membawa karangan bunga dan sekeranjang buah. Mereka… masih memakai kemeja Jounan.

“Kalian…” aku benar-benar terkejut, tapi Yuuya tidak terlihat.

“Bagaimana? Keren kan?” tanya Shiraishii.

“Semua murid Yuuhi tidak ada apa-apanya, tidak seru” kata Haga.

“Iya, padahal kita masih segar bugar begini” timpal Iseri.

“Tunggu… Yuuya dan Inoue?” tanyaku, bagaimana bisa…

Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum.

“Jangan khawatir, mereka lebih segar bugar dari pada kami” katanya.

“Iyah, apalagi ada Hattori, teman Inoue… sudah pasti kami tidak akan diskorsing karena membela diri” jelas Shiraishii.

Jadi Inoue dan Yuuya, baik-baik saja… Sungguhkah… Bukan seperti dalam mimpiku kan???

“Asou!!!” seru sebuah suara yang kukenal.

Aku menatap wajah itu, tetap seperti biasa, senyum yang biasanya dan tawa yang biasanya.

“Memang boleh duduk begitu, Asou?” tanya Inoue yang datang dibelakang Yuuya.

“Sebenarnya aku malas menolongmu, tapi karena Asou ingin menolong, yah… kugantikan dia” timpal Yuuya.

“Aku tak butuh bantuanmu, pendek” katanya dengan nada mengejek.

“Kau… mau kutusuk saat jalan-jalan malam?” ancam Yuuya.

Aku tersenyum dan mendekati mereka, lalu memeluk Yuuya dan Inoue. Entah kenapa air mataku mengalir begitu saja. Selama ini… aku selalu tidak memiliki teman, dan sekarang… teman-temanku ini yang membelaku sampai seperti ini. Tuhan… terimakasih banyak, kau memberiku teman dan seorang… bidadari. Rasanya hidupku lengkap sudah. Aku tak lagi merasakan sakit, atau nyeri… semua terasa hangat dan lembut. Inilah rasanya persahabatan.

***

Selama setahun lebih aku menjalani kehidupanku dengan bahagia, bersama Inoue dan Yuuya Cs. Bagaimanapun juga aku telah berhasil melewati hari-hari gelap dalam hidupku karena ada mereka, dan aku benar-benar telah lupa bagaimana orang lain memperlakukan aku dengan semena-mena. Soal bagaimana perasaanku pada Yuuya, aku masih menyimpannya dalam hati.

Entah kenapa aku merasa sedikit iri pada Inoue, bukan cemburu, tapi hanya merasa iri. Dia telah lebih dulu mengenal Yuuya (walau Shiraishii Cs juga begitu), lalu dia juga kuat (itu alasan mengapa sekarang aku ikut klub karate), dan kaya (yang ini aku masih belum sanggup menandinginya) dan satu lagi… dari sejak lahir dia dilahirkan untuk jadi orang yang cool dan berkarakter kuat, berbeda denganku. Tapi… aku tidak menyerah, walau dia tidak pernah bilang atau memperlihatkan perasaannya pada Yuuya sih.

Musim panas tahun kedua di SMP, aku menulis surat diatas lembaran kertas surat berwarna pink (aku kehabisan akal, harus dengan apa menyampaikan perasaanku). Aku tersenyum dan tertawa sendiri. Apa iya masih ada orang yang mengungkapkan perasaan dengan surat. Aku ragu… apa dia mau terima?. Akhirnya aku memutuskan untuk menelpon seseorang untuk meminta saran.
Aku menekan tombol angka 3 dan menekan tombol ‘Call’. Aku mendengarkan nada sambung sebelum seorang menjawab telponku.

“Hei, Asou ada apa?” tanya suara lembut disebrang sana.

“Ah, Yuuya… begini… menurutmu, kalau memberikan surat cinta… apa itu tidak ketinggalan jaman?” tanyaku. Aku sedikit gugup mendengar jawabannya.

“Eh? Surat cinta? Wah… kau jatuh cinta Asou? Dengan siapa? Eh tunggu sebentar” sebuah pertanyaan yang bertubi-tubi… dari mana aku mulai menjawabnya.

“Maaf Asou, tadi ibuku memanggil” katanya, “Menurutku tidak masalah, yah… memang ketinggalan jaman, tapi… bagaimanapun juga yang dihargai itukan keberanian saat mengungkapkan iya kan?” tanyanya berbalik padaku.

Aku terdiam, “Jadi tidak kuno?” tanyaku lagi.

“Tidak! Ah, ibuku memanggil, maaf bisa kita lanjutin nanti aja?” tanyanya, sepertinya terburu-buru.

“Ya… baiklah, terimakasih Yuuya” kataku.

“Osh, Bye” katanya lalu menutup telpon sebelum aku mengatakan ‘Bye’.

Aku kembali menekuni suratku. Yah, baginya tidak masalah, berarti tidak terlalu memalukan, aku kembali tertawa lagi. Tiba-tiba pintu kamarku di ketuk.

“Ya, masuk” kataku.

“Asou… kami ingin bicara” kata Ayah dan Ibuku yang tiba-tiba berwajah serius.

***

Surat itu tidak pernah kuberikan padanya, tidak sekalipun. Ayah dan Ibuku memutuskan untuk pindah rumah karena Ayahku mendapat pekerjaan dikota lain. Keesokan harinya aku harus berpisah dengan teman-temanku, menyimpan rasa sakit yang berkali-kali menikam jantungku saat memandangnya menangis. Aku idak tahu apa suatu hari nanti bisa bertemu. Kalau bisa aku ingin sekali saja, menyerahkan surat itu padanya. Walau terlambat, walau terlihat kuno, janji tetaplah janji. Lagipula disana ada Inoue yang sekarang selalu ada bersama Yuuya Cs. Paling tidak aku akan tahu dia akan baik-baik saja.

***

Empat tahun setelah hari itu, musim panas memang sangat mengasyikkan untuk pergi kelaut atau mendaki gunung. Tapi justru harus bersiap-siap untuk Interhigh. Aku masuk ke SMU Swasta Ginsei dan ikut klub karate disana, dan sekarang terpilih untuk mewakili sekolahku dalam kejuaraan Interhigh, yang saat sudah memasuki semifinal.

“Furukawa, berjuang ya!!!” kata senior Tsurime.

“Ehehe… kalau juara favorit saja bagaimana?” tanyaku.

Dia memukul kepalaku, “Aduh” aku mengelus kepalaku yang tadi dipukulnya.

“Kau pikir ini kontes baju renang!!!” bentaknya. Aku hanya tertawa pasrah.

Kalau lawannya Seibu dan Jounan… bagaimana mungkin menang. Mereka kan selalu juara dari tahun lalu. Tapi… Jounan… apa Inoue dan Yuuya masih disana?. Apa mereka ada disini ya untuk mendukung temannya mungkin.

“Hei bersiap giliranmu” kata senior Tsurime sambil mendorongku maju.

Aku bersiap disudut biru. Dan seorang pemuda berambut coklat kemerahan berdiri dan bersiap dipojok merah. Aku mengenal wajah itu, walau empat tahun berlalu sekalipun. Aku mengenalnya.

Moderator memulai pertandingan, “Baik, disudut biru, SMU Swasta Ginsei, Furukawa Asou” serunya, “Dan disusut merah, SMU Jounan Jousei, Inoue You”.

Benar… dia Inoue. Kalau begitu mungkin… Yuuya. Aku menoleh kekanan dan kekiri, mencari Yuuya.

“Hei, lawanmu didepan Asou” kata Inoue.

Aku tersenyum, “Lama tidak jumpa, Inoue”.

“Yah, jangan sampai kalah ya… dia melihatmu” katanya sambil memberi isyarat lewat anggukan kearah timur. Mataku mengikuti arah anggukannya.

Tim karate putri dari SMU Swasta Seibu sedang menunggu giliran untuk tanding di semi final. Seorang gadis berambut perak yang diikat kebelakang memandangiku sambil tersenyum. Benar, itu Yuuya.

“Aku tidak akan kalah” kataku sambil memasang kuda-kuda.

“Ya, baiklah” timpal Inoue sambil tersenyum.

Senyum yang biasanya, senyum mengejek yang biasanya, tapi bagiku itu bukanlah sebuah ejekan. Begitulah Inoue. Tapi, hari ini saja, disaat ini saja… aku akan menganggapnya musuhku. Jika aku menang, akan kuberikan surat itu padanya. Surat yang kusimpan sebagai key chain sejak hari itu. Akan kuberikan padanya.

End

Dedicated to my Little Brother.

And My Family of course,

Im so sorry if this just an amateur but I hope I could regain my writing technic.

Thank for All

See You ;-P

Prita Chubby

Inspirated By :

Rainy Days And Mondays Words and Music by: Paul Williams & Roger Nichols (Carpenters) And Resong by : Monkey Majik on their compilation album Yesterday Once More ~ Tribute to The Carpenters

Talkin’ to myself and feelin’ old
Sometimes I’d like to quit
Nothing ever seems to fit
Hangin’ around
Nothing to do but frown
Rainy Days and Mondays always get me down.
What I’ve got they used to call the blues
Nothin’ is really wrong
Feelin’ like I don’t belong
Walkin’ around
Some kind of lonely clown
Rainy Days and Mondays always get me down.
Funny but it seems I always wind up here with you
Nice to know somebody loves me
Funny but it seems that it’s the only thing to do
Run and find the one who loves me.
What I feel has come and gone before
No need to talk it out
We know what it’s all about
Hangin’ around
Nothing to do but frown
Rainy Days and Mondays always get me down.

Another BGM :

– Rainy Days & Mondays by Monkey Majik,

– The Letter by Monkey Majik,

– I Miss You by Monkey Majik,

– Akikaze no Uta by Akeboshi,

– Blue Bird by Ikkimonogatari,

– No Rain, No Rainbow by Aqua Timez.

One comment

  1. […] iya mengenai cerita DxHxA : Rainy Days & Mondays, banyak yang tanya kenapa namanya kudu jejepangan (nama jepang), hmm… jawabannya sedikit […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: